Jumat, 28 Oktober 2016

Pentingnya publikasi dalam era informasi

Publikasi merupakan salah satu kata-kata yang masih cukup asing terhadap para pelajar kita. Terlebih lagi dengan kenyamanan teknologi saat ini, keahlian copy-paste semakin mendarah daging bagi kalangan-kalangan yang malas untuk berkreasi dan mandiri serta berbangga dengan hasil karyanya sendiri. Pertanyaannya ialah apa yang menyebabkan para pelajar tidak terbiasa melakukan publikasi? dengan merunut sebuah logika berpikir, bisa jadi kemampuan literasi (mencari dan mengutip) masih cukup lemah. Di samping itu, diperparah lagi, mereka lebih asyik menumpuk waktu di dunia media sosial dan game daripada produktif dan belajar untuk kepentingan masa depan mereka.
Pergeseran dari kebutuhan pemenuhan informasi untuk berkreasi ke kebutuhan informasi yang hanya bersifat menghibur saja (atau bahkan kebutuhan informasi tentang seseorang /'kepo') yang saat ini menjadi trend di kalangan kita semua. Sedangkan perang pemikiran yang selalu dikedepankan ialah biarkan negeri-negeri berkembang berpuas diri dengan kebudayaan dan keseniannya. 
Kembali ke topik, publikasi sebenarnya adalah salah satu bukti eksistensi kita di dunia ini, seberapa banyak buah pikiran itu bermanfaat bagi orang lain. Dulu, supaya sebuah tulisan yang muncul di media tidak bisa semua orang mengisi. Sekarang, siapapun boleh menulis di dunia maya ini. Melalui semua platform yang tersedia mulai dari blog, medsos dst. 
Yang menjadi tanda tanya kita, sejauh mana tulisan kita? apakah hanya sebatas tertumpuk dalam otak, tertulis berserakan di buku diari, atau sekedar masih nongol di blog pribadi seperti milik saya ini? Ataukah lebih pantas tulisan kita bisa bersaing di ranah lokal, nasional hingga internasional dengan para pembanding yang sama-sama ahli di bidangnya? Jika pantas, kapankah saatnya?

Rabu, 26 Oktober 2016

Persiapan Sebelum Belajar



Belajar adalah proses yang setiap kali kita lakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Baik artinya bisa menjadi lebih bijak, lebih pandai atau lebih cerdik dalam menghadapi suatu persoalan. Belajar pun tidak harus berada di kelas, belajar bisa dimana pun asalkan anda memposisikan diri sebagai pembelajar.
Siapakah pembelajar? siapapun. Tidak ada batasan untuk kita membatasi diri bahwa saya cukup belajar atas kondisi hari ini. Bahkan para penyandang gelar profesor dan memiliki keilmuan di bidangnya masih perlu belajar. Berhenti sejenak untuk tidak belajar hanya bagi orang-orang yang sudah menemukan sesuatu dan berpuas diri. Tapi mereka yang berpuas diri dan mencukupkan diri rata-rata akan berhenti belajar.

Kembali ke inti, apa yang dibutuhkan ketika kita akan belajar? Satu-satunya cara ialah dengan memiliki pengetahuan awal mengenai materi tersebut, Semakin dalam pengetahuan awal mengenai materi tersebut, makin banyak yang "nyambung" ketika orang lain berbicara mengenai masalah/materi tersebut. Sehingga pertanyaan yang akan kita lontarkan hasilnya pertanyaan-pertayaan kritis. Pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut yang menjadikan kita tidak hanya sekedar tahu tetapi tahu lebih banyak dari porsi yang bisa diketahui oleh orang pada umumnya terhadap pengetahuan narasumber.

Lain kalimat atau Hasilnya, ketika orang lain masih menganggap baru mengenai ilmu/materi tersebut, kita satu langkah lebih baik dan otomatis, bukan kesulitan yang kita dapat tetapi kemudahan-kemudahan dalam memahami sebuah materi.Wallahua'lam bisshawab.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Bagaimana cara belajar yang baik?



Mercusuar: Sebuah tanda untuk memberikan informasi ke sekelilingnya

Hal yang pertama kali ketika ingin mendalami sebuah ilmu pengetahuan ialah dengan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu dipupuk melalui hasil dari diskusi panjang yang tak pernah putus mengenai untuk apa saya belajar. Manfaat apakah yang nanti saya peroleh bila saya belajar sungguh2 di bidang ini. Itulah yang perlu dicamkan pada pikiran kalian.
Cara belajar yang baik bisa juga dimulai dari motivasi yang anda bangun sendiri bahwa jika saya bisa berhasil di bidang ini, kenapa saya tidak bisa untuk bidang lainnya?
Jadi, dengan cara belajar semacam itu setidaknya mereka yang tidak memilikinya akan tertinggal satu-dua langkah lebih jauh.
Belajar yang baik artinya mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ilmu yang bermanfaat kuncinya tidak hanya diukur dari berapa banyak materi yang bisa ia tumpuk, tetapi ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi setelahnya setelah kita tiada. Sehingga, harapan terakhir yang bisa kita torehkan disana ialah ada jejak sejarah dengan membuat sebuah perubahan positif bagi individu2 yang sangat ingin berkembang diluaran sana.
Sederhananya, Kenikmatan tahu hanya didapatkan oleh orang2 yang belum pernah tahu serta orang-orang yang berusaha ingin tahu serta melakukan dan mendapatkan manfaat lebih dari apa yang ia tahu.

Sekedar catatan pembuka .....



9.40 PM, 10/22/2016

Jumat, 07 Oktober 2016

tonight

testing blogger with new face look up in the sky when you believe it doesn't matter how you could bring the dream at least. Nulis pakai bahasamu ae, ojo berbangga dengan bahasa selain bahasa ibu.